Liga Inggris: Liverpool 4-0 Fulham - Kesalahan Amorebieta dan Bom Waktu Liverpool
Berkaca pada statistik pertandingan, tidak sulit
untuk membayangkan seperti apa jalannya pertandingan antara Liverpool vs
Fulham semalam. Penguasaan bola 63% : 37%, shot on target 11 berbanding
1, dan corner 9 berbanding 3 sudah dengan gamblang menjelaskan
Liverpool sangat mendominasi pertandingan.
Jika dilengkapi dengan jumlah completed passes Liverpool sebanyak 646 berbanding yang Fulham 259, banyak orang yang akan langsung dengan mudah menyimpulkan bahwa pertandingan ini berjalan berat sebelah.
Kenyataannya memang seperti itu. Liverpool mendominasi pertandingan sejak menit pertama tanpa memberikan kesempatan kepada Fulham untuk menyerang balik.

[Statistik Pertandingan. Sumber: squawka.com]
Eksploitasi Sayap Kanan
Martin Jol menampilkan formasi yang sama seperti saat kalah melawan Manchester United. Ia menempatkan dua gelandang bertahan tipe fighter di tengah dan memainkan defensive line sangat rendah. Hal ini dapat dimengerti, mengingat permainan Liverpool yang mengandalkan operan-operan pendek para gelandang tengahnya.
Namun ternyata taktik Jol ini justru menjadi blunder tersendiri. Garis pertahanan yang terlalu rendah membuat para gelandang Liverpool dengan leluasa meracik serangan dari belakang.
Peran dua gelandang bertahan, yang tadinya difungsikan untuk memotong operan-operan yang masuk ke final third, menjadi gagal total ketika Lucas dan Gerrard lebih sering mengalirkan bola ke area sayap kanan. Di sana, umpan dimanfaatkan dengan baik oleh Glen Johnson dan dibantu Jordan Henderson yang ikut bermain melebar.

Liverpool terus melancarkan serangan dari sayap kanan sepanjang babak pertama. Bahkan, setengah dari serangan yang dilancarkan liverpool pada babak pertama dialirkan melalui sayap kanan.
Hal ini juga
dibantu dengan Martin Jol yang menempatkan Kacaniklic di sayap kiri.
Semula ia disiapkan untuk melakukan serangan balik dari sisi kiri. Namun
Kacaniklic tak mampu melindungi Richardson dan justru memberikan ruang
untuk Glen Johnson dan Jordan Henderson berkreasi mendobrak pertahanan
Fulham.
Ashkan Dejagah yang ditugaskan untuk mengawal pemain debutan Elsad Zverotic (menggantikan Sascha Riether) menjadi tidak banyak berperan. Ini karena tidak banyak serangan Liverpool yang diarahkan ke sisi tersebut.
Fernando Amorebieta
Nama bek tengah Fulham, Fernando Amorebieta, selalu muncul pada proses terciptanya 3 gol Liverpool pada babak pertama. Deflection pada gol pertama, gagal mengawal Skrtel pada gol kedua, dan memberikan ruang pada Suarez di gol ketiga.
Pada gol pertama, Fernando Amorebieta yang bertugas menjaga Daniel Agger berada pada posisi yang sama sekali tidak menguntungkan. Amorebieta berada sekitar satu langkah di belakang Agger, sehingga ia tidak dapat melihat arah bola dengan baik.
Bola hasil flick Suarez yang melewati Daniel Agger ternyata justru dibelokkan oleh Amorebieta. Martin Stekelenberg pun tidak dapat berbuat apa-apa.

[Proses gol pertama Liverpool]
Pada gol kedua, Amorebieta giliran bertugas untuk menjaga Martin Skrtel. Lagi-lagi, Amorebieta tertinggal satu langkah dari pergerakan Skrtel. Tidak banyak yang dapat dilakukan Amorebieta, ketika bola terukur Steven Gerrard ke arah tiang dekat langsung disambar Skrtel ke kanan Gawang Martin Stekelenburg.

[Proses gol kedua Liverpool]
Pada gol ketiga, pergerakan Sturidge sedikit mundur ke belakang berhasil menarik maju Amorebieta dari posisi yang seharusnya. Hal ini membuat terciptanya ruang di belakang Amorebieta. Suarez pun berhasil memanfaatkan kesalahan Amorebieta ini untuk terhindar dari posisi offside. Umpan terobosan matang dari Jordan Henderson, yang diarahkan ke ruang kosong tersebut, pun langsung digunakan Suarez untuk menciptakan gol ketiga Liverpool.
Ashkan Dejagah yang ditugaskan untuk mengawal pemain debutan Elsad Zverotic (menggantikan Sascha Riether) menjadi tidak banyak berperan. Ini karena tidak banyak serangan Liverpool yang diarahkan ke sisi tersebut.
Fernando Amorebieta
Nama bek tengah Fulham, Fernando Amorebieta, selalu muncul pada proses terciptanya 3 gol Liverpool pada babak pertama. Deflection pada gol pertama, gagal mengawal Skrtel pada gol kedua, dan memberikan ruang pada Suarez di gol ketiga.
Pada gol pertama, Fernando Amorebieta yang bertugas menjaga Daniel Agger berada pada posisi yang sama sekali tidak menguntungkan. Amorebieta berada sekitar satu langkah di belakang Agger, sehingga ia tidak dapat melihat arah bola dengan baik.
Bola hasil flick Suarez yang melewati Daniel Agger ternyata justru dibelokkan oleh Amorebieta. Martin Stekelenberg pun tidak dapat berbuat apa-apa.

[Proses gol pertama Liverpool]
Pada gol kedua, Amorebieta giliran bertugas untuk menjaga Martin Skrtel. Lagi-lagi, Amorebieta tertinggal satu langkah dari pergerakan Skrtel. Tidak banyak yang dapat dilakukan Amorebieta, ketika bola terukur Steven Gerrard ke arah tiang dekat langsung disambar Skrtel ke kanan Gawang Martin Stekelenburg.

[Proses gol kedua Liverpool]
Pada gol ketiga, pergerakan Sturidge sedikit mundur ke belakang berhasil menarik maju Amorebieta dari posisi yang seharusnya. Hal ini membuat terciptanya ruang di belakang Amorebieta. Suarez pun berhasil memanfaatkan kesalahan Amorebieta ini untuk terhindar dari posisi offside. Umpan terobosan matang dari Jordan Henderson, yang diarahkan ke ruang kosong tersebut, pun langsung digunakan Suarez untuk menciptakan gol ketiga Liverpool.

[Proses gol ketiga Liverpool]
Perubahan di Babak Kedua
Melihat semua rencananya berantakan, Martin Jol tidak mau berdiam diri untuk terus dipermalukan tim tuan rumah. Kacaniklic, yang terus memberikan ruang di sisi kiri untuk Liverpool, lalu ditarik keluar dan digantikan Bryan Ruiz.
Pajtim Kasami, pemain yang paling memberikan kontribusi untuk serangan maupun pertahanan Fulham pada babak pertama, kemudian digeser ke sisi kiri untuk membantu Kieran Richardson meredam gempuran Liverpool.
Bryan Ruiz sendiri ditempatkan di depan dua gelandang bertahan Steve Sidwell dan Scott Parker, untuk mengganggu kreasi Gerrard dan Lucas Leiva.
Garis pertahanan yang menjadi blunder Martin Jol di babak pertama juga diperbaiki. Defensive line Fulham didorong lebih naik, sehingga Steve Sidwell, Scott Parker, dan Bryan Ruiz dapat mulai mengacaukan serangan Liverpool saat masih dipersiapkan oleh Gerrard dan Lucas. Hal ini terlihat jelas pada chalkboard yang menunjukan operan-operan yang dilakukan oleh Liverpool.

Di babak pertama, Liverpool dapat dengan leluasa mempersiapkan serangan hingga melewati garis tengah lapangan. Gangguan dari dua gelandang Fulham baru datang pada beberapa meter di depan kotak penalti.
Namun di babak kedua, Fulham sudah mulai mengganggu pergerakkan dua gelandang Liverpool tepat di garis tengah lapangan. Akibatnya serangan sayap Liverpool pun langsung dilakukan sejak masih berada di garis tengah lapangan. Ini menyebabkan sisi sayap Fulham lebih mudah meredam pergerakan penyerang sayap Liverpool.
Meski tidak dapat berbuat banyak untuk menyamakan kedudukan, atau setidaknya untuk memperkecil skor, perubahan strategi yang dilakukan Martin Jol berhasil menghentikan keganasan serangan Liverpool di babak pertama.
Perubahan di Babak Kedua
Melihat semua rencananya berantakan, Martin Jol tidak mau berdiam diri untuk terus dipermalukan tim tuan rumah. Kacaniklic, yang terus memberikan ruang di sisi kiri untuk Liverpool, lalu ditarik keluar dan digantikan Bryan Ruiz.
Pajtim Kasami, pemain yang paling memberikan kontribusi untuk serangan maupun pertahanan Fulham pada babak pertama, kemudian digeser ke sisi kiri untuk membantu Kieran Richardson meredam gempuran Liverpool.
Bryan Ruiz sendiri ditempatkan di depan dua gelandang bertahan Steve Sidwell dan Scott Parker, untuk mengganggu kreasi Gerrard dan Lucas Leiva.
Garis pertahanan yang menjadi blunder Martin Jol di babak pertama juga diperbaiki. Defensive line Fulham didorong lebih naik, sehingga Steve Sidwell, Scott Parker, dan Bryan Ruiz dapat mulai mengacaukan serangan Liverpool saat masih dipersiapkan oleh Gerrard dan Lucas. Hal ini terlihat jelas pada chalkboard yang menunjukan operan-operan yang dilakukan oleh Liverpool.

Di babak pertama, Liverpool dapat dengan leluasa mempersiapkan serangan hingga melewati garis tengah lapangan. Gangguan dari dua gelandang Fulham baru datang pada beberapa meter di depan kotak penalti.
Namun di babak kedua, Fulham sudah mulai mengganggu pergerakkan dua gelandang Liverpool tepat di garis tengah lapangan. Akibatnya serangan sayap Liverpool pun langsung dilakukan sejak masih berada di garis tengah lapangan. Ini menyebabkan sisi sayap Fulham lebih mudah meredam pergerakan penyerang sayap Liverpool.
Meski tidak dapat berbuat banyak untuk menyamakan kedudukan, atau setidaknya untuk memperkecil skor, perubahan strategi yang dilakukan Martin Jol berhasil menghentikan keganasan serangan Liverpool di babak pertama.
Sayangnya,
Fulham masih harus kecolongan satu gol ketika Kieran Richardson
kehilangan konsentrasi. Steven Gerrard lalu berhasil mencuri bola dan
memberikan assist untuk gol kedua Luis Suarez.
Silent Killer di Pertahanan Liverpool
Aksi Luis Suarez dengan dua golnya memang berhasil mencuri perhatian siapapun yang menonton pertandingan ini. Tidak heran jika kemudian penyerang asal Uruguay ini dinobatkan sebagai man of the match. Namun, Brendan Rodgers tidak bisa tidak memberikan penghargaan kebada Lucas Leiva.
Peran Lucas, yang hanya untuk menjaga pertahanan Liverpool dari serangan balik Fulham, memang terdengar mudah. Apalagi Fulham hanya menyisakan Berbatov seorang diri di depan.
Namun, jika dilihat lebih dalam, Lucas benar-benar berhasil menjalankan peran yang sangat krusial untuk kemenangan Liverpool. Ini karena dua fullback Liverpool selalu ikut naik menyerang dan menciptakan ruang kosong di kanan dan kiri pertahanan Liverpool. Hal ini pula yang terus diincar oleh Martin Jol di sepanjang pertandingan, dengan menyiapkan Kacaniklic di sisi kiri dan Ashkan Dejagah di sisi kanan.
Lucas dengan sangat cerdik merubah ruang kosong tersebut menjadi area eksekusi untuk menghentikan serangan balik Fulham. Tercatat, 10 kali successful tackle yang dilakukan oleh Lucas Leiva sepanjang pertandingan. Jumlah ini hampir setengah dari total successful tackle yang dilakukan oleh Liverpool sepanjang pertandingan.

[Aksi Bertahan Lucas Leiva. Sumber: fourfourtwo.com]
Aksi Lucas Leiva ini benar-benar berhasil membuat Glen Johnson dan Aly Cissokho tidak perlu khawatir terlambat kembali ke posisi, saat terjadi serangan balik Fulham. Semua tugas mengamankan pertahanan gawang berhasil di-cover dengan baik oleh Lucas Leiva sehingga mereka dapat dengan tenang membombardir pertahanan Fulham.
Suarez vs Sturridge
Silent Killer di Pertahanan Liverpool
Aksi Luis Suarez dengan dua golnya memang berhasil mencuri perhatian siapapun yang menonton pertandingan ini. Tidak heran jika kemudian penyerang asal Uruguay ini dinobatkan sebagai man of the match. Namun, Brendan Rodgers tidak bisa tidak memberikan penghargaan kebada Lucas Leiva.
Peran Lucas, yang hanya untuk menjaga pertahanan Liverpool dari serangan balik Fulham, memang terdengar mudah. Apalagi Fulham hanya menyisakan Berbatov seorang diri di depan.
Namun, jika dilihat lebih dalam, Lucas benar-benar berhasil menjalankan peran yang sangat krusial untuk kemenangan Liverpool. Ini karena dua fullback Liverpool selalu ikut naik menyerang dan menciptakan ruang kosong di kanan dan kiri pertahanan Liverpool. Hal ini pula yang terus diincar oleh Martin Jol di sepanjang pertandingan, dengan menyiapkan Kacaniklic di sisi kiri dan Ashkan Dejagah di sisi kanan.
Lucas dengan sangat cerdik merubah ruang kosong tersebut menjadi area eksekusi untuk menghentikan serangan balik Fulham. Tercatat, 10 kali successful tackle yang dilakukan oleh Lucas Leiva sepanjang pertandingan. Jumlah ini hampir setengah dari total successful tackle yang dilakukan oleh Liverpool sepanjang pertandingan.

[Aksi Bertahan Lucas Leiva. Sumber: fourfourtwo.com]
Aksi Lucas Leiva ini benar-benar berhasil membuat Glen Johnson dan Aly Cissokho tidak perlu khawatir terlambat kembali ke posisi, saat terjadi serangan balik Fulham. Semua tugas mengamankan pertahanan gawang berhasil di-cover dengan baik oleh Lucas Leiva sehingga mereka dapat dengan tenang membombardir pertahanan Fulham.
Suarez vs Sturridge
Dalam
beberapa minggu ini, Liverpool selalu membangga-banggakan dua striker
mereka yang sedang dalam performa maksimalnya, Luis Suarez dan Daniel
Sturridge. Wajar saja, hingga saat ini pencetak gol terbanyak liga
Inggris dipimpin oleh kedua striker Liverpool ini bersama Sergio Aguero
dengan 8 gol. SAS atau Sturridge and Suarez menjadi julukan yang selalu
disebut para pendukung Liverpool.
Namun terjadi hal yang sedikit menghawatirkan terhadap duet ini pada pertandingan melawan Fulham. Fakta di lapangan menunjukan bahwa hanya terjadi 6 operan berhasil antara Luis Suarez dan Daniel Sturridge. Empat di antaranya dari Sturridge ke Suarez, dan 2 sisanya dari Suarez ke Sturridge. Padahal, saat mengalahkan WBA, Sturridge saja sampai memberikan 9 passing pada Suarez

[Kombinasi passing Sturridge-Suarez. Sumber: fourfourtwo.com]
Sturridge yang harus keluar pada menit ke-76 dengan hanya melepaskan satu tembakan ke gawang tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya. Peran besarnya saat memberikan 3 kemenangan 1:0 beruntun bagi Liverpool di awal musim seolah-olah mulai redup seiring kembalinya Suarez pasca larangan bermain. Para pendukung Liverpool kembali memuja pahlawan asal Uruguay ini, dan sedikit melupakan jasa besar Sturridge pada awal musim.
Sudah sangat wajar bahwa sifat dasar seorang striker adalah memiliki ego yang tidak mau kalah oleh siapapun. Hal inilah yang membuatnya menjadi seorang striker opportunis yang haus gol.
Sama halnya dengan Luis Suarez dan Daniel Sturridge. Keduanya adalah striker yang jadi pembunuh berdarah dingin di depan gawang. Sekilas memang terlihat kedua striker ini saling bahu-membahu untuk memberikan kemenangan demi kemenangan bagi Liverpool. Namun insting striker mereka tidak dapat membohongi mata publik, bahwa mereka juga bersaing untuk menjadi striker nomor satu di Liverpool.
Mungkin inilah yang menjadi tugas besar Brendan Rodgers jika ingin mempertahankan tren positif Liverpool hingga akhir musim nanti. Dua penyerang haus gol ini harus terus diberikan pengertian untuk sedikit mengesampingkan egonya masing-masing demi kemenangan tim.
Brendan Rodgers memang telah berhasil memoles dua senjata mematikan ini untuk menjadi ancaman besar bagi setiap lawan Liverpool. Sekarang saatnya Brendan Rodgers untuk dapat menyelaraskan keduanya agar tidak saling menjatuhkan.
Pandit Football Indonesia*
====
* Dianalisis oleh @panditfootball
(dtc/fem) Sumber: detiksport
Namun terjadi hal yang sedikit menghawatirkan terhadap duet ini pada pertandingan melawan Fulham. Fakta di lapangan menunjukan bahwa hanya terjadi 6 operan berhasil antara Luis Suarez dan Daniel Sturridge. Empat di antaranya dari Sturridge ke Suarez, dan 2 sisanya dari Suarez ke Sturridge. Padahal, saat mengalahkan WBA, Sturridge saja sampai memberikan 9 passing pada Suarez

[Kombinasi passing Sturridge-Suarez. Sumber: fourfourtwo.com]
Sturridge yang harus keluar pada menit ke-76 dengan hanya melepaskan satu tembakan ke gawang tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya. Peran besarnya saat memberikan 3 kemenangan 1:0 beruntun bagi Liverpool di awal musim seolah-olah mulai redup seiring kembalinya Suarez pasca larangan bermain. Para pendukung Liverpool kembali memuja pahlawan asal Uruguay ini, dan sedikit melupakan jasa besar Sturridge pada awal musim.
Sudah sangat wajar bahwa sifat dasar seorang striker adalah memiliki ego yang tidak mau kalah oleh siapapun. Hal inilah yang membuatnya menjadi seorang striker opportunis yang haus gol.
Sama halnya dengan Luis Suarez dan Daniel Sturridge. Keduanya adalah striker yang jadi pembunuh berdarah dingin di depan gawang. Sekilas memang terlihat kedua striker ini saling bahu-membahu untuk memberikan kemenangan demi kemenangan bagi Liverpool. Namun insting striker mereka tidak dapat membohongi mata publik, bahwa mereka juga bersaing untuk menjadi striker nomor satu di Liverpool.
Mungkin inilah yang menjadi tugas besar Brendan Rodgers jika ingin mempertahankan tren positif Liverpool hingga akhir musim nanti. Dua penyerang haus gol ini harus terus diberikan pengertian untuk sedikit mengesampingkan egonya masing-masing demi kemenangan tim.
Brendan Rodgers memang telah berhasil memoles dua senjata mematikan ini untuk menjadi ancaman besar bagi setiap lawan Liverpool. Sekarang saatnya Brendan Rodgers untuk dapat menyelaraskan keduanya agar tidak saling menjatuhkan.
Pandit Football Indonesia*
====
* Dianalisis oleh @panditfootball
(dtc/fem) Sumber: detiksport



0 komentar for "Liga Inggris: Liverpool 4-0 Fulham - Kesalahan Amorebieta dan Bom Waktu Liverpool "